Atasi Gangguan Irama Jantung dengan Teknologi EPS (Electrophysiology Study)

Aritmia adalah salah satu penyakit jantung yang dapat disembuhkan secara total dalam arti penderita mungkin tidak perlu lagi mengkonsumsi obat-obat anti aritmia seumur hidupnya. Teknologi terkini sudah dapat melakukan hal tersebut tanpa melalui prosedur pembedahan dan tanpa bius total yang tentunya akan lebih aman dan nyaman untuk pasien.

Untuk mengatasi aritmia dengan irama jantung yang lebih cepat dari normal sebuah teknologi kedokteran yang disebut Ablasi baik yang dilakukan dengan metode konvensional maupun 3 dimensi ini  telah digunakan secara luas. Ablasi adalah tindakan intervensi non bedah dengan cara memasukkan kateter ablasi melalui pembuluh darah vena maupun arteri di daerah lipat paha maupun leher untuk kemudian mencapai jantung.

dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP (K) FIHA adalah dokter spesialis penyakit jantung dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang mengatakan bahwa dengan sebuah metode yang dinamakan Electrophysiology study (EPS) maka dengan menggunakan kateter tersebut, yang diletakkan di beberapa tempat di permukaan dalam jantung (Endocard), diagnosis aritmia kemudian ditegakkan. Kateter tersebut akan mengirimkan suatu gelombang radiofrekuensi yang kemudian akan mengablasi (memanaskan) dengan tujuan menonaktifkan jalur konduksi atau sel jantung yang abnormal penyebab aritmia. Kini bahkan teknologi tersebut telah berkembang dengan ditemukannya ablasi dingin atau cryo ablation.

Tindakan ablasi baik secara konvensional maupun 3 dimensi, radiofrekuensi maupun cryoablation, memiliki resiko yang rendah dan dapat dikatakan cukup aman untuk dilakukan. Tingkat keberhasilan ablasi bervariasi untuk setiap diagnosis/kelainan irama namun kisarannya mencapai 90-98%. Beberapa kelainan memang secara alamiah memiliki tingkat kekambuhan/rekurensi yang lebih tinggi namun secara umum dapat dikatakan tingkat kekambuhan berkisar antara 2-5%, namun dengan melakukan reablasi angka tersebut akan menurun drastis. Tindakan ablasi dapat dilakukan dalam waktu yang singkat dan pemulihannya pun tidak lama. Penderita hanya memerlukan rawat inap selama 1 malam untuk keesokan harinya dapat pulang dan bekerja seperti biasa keesokan harinya tanpa perlu pengawasan maupun pantangan khusus.

Olahraga bukan merupakan kontra indikasi mutlak pada penderita dengan aritmia. “Beberapa jenis aritmia memang dapat terpicu dan memburuk bahkan hanya dengan aktifitas sedang, maka pada penderita aritmia yang belum diablasi atau memiliki kontraindikasi untuk ablasi dianjurkan berkonsultasi dahulu ke dokter spesialis jantungnya untuk mendapatkan saran aktifitas olahraga apa saja yang boleh dilakukan,”ujarnya. “Bagaimana dengan penderita aritmia yang sudah menjalani ablasi? Penderita yang sudah menjalani tindakan ablasi yang berhasil (Succesful Ablation) maka tidak ada lagi pembatasan olahraga maupun aktifitas selama masih memungkinkan,” terang dokter Agung.

Pada penderita aritmia dengan gajala denyut jantung yang melambat maka terapinya adalah dengan cara memasang alat pacu jantung permanen. Alat pacu ini akan diimplan di bawah kulit, biasanya di dada sebelah kiri atau kanan atas. Alat ini akan bekerja dengan cara memberikan impuls listrik buatan yang dihasilkan oleh generator yang diatur oleh mikrokomputer. Alat ini dapat bertahan hingga 12 tahun dan pada saat baterai sudah habis maka yang diganti hanyalah baterai/generator nya saja (terintegrasi dalam satu alat) sehingga tidak perlu melakukan pemasangan kabel baru.

Beberapa alat lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi aritmia antara lain ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator) yaitu alat yang dapat memberikan kejutan listrik dan impuls pada jantung, CRT (Cardiac Resynchronization Therapy) yaitu alat yang dapat mensinkronkan denyutan bilik kiri dan kanan sehingga kontraksi jantung dapat menjadi optimal. CRT dipasang pada penderita gagal jantung yang berat dengan kriteria tertentu.

Aritmia jantung merupakan sebuah kelainan irama jantung yang seringkali luput dari perhatian karena memang ahli di bidang ini masih sangat langka. Hanya ada 27 ahli aritmia jantung (cardiac electrophysiologist) yang ada di Indonesia saat ini. Rumah Sakit Awal Bros saat ini memiliki 2 orang ahli aritmia yang dilengkapi dengan alat ablasi konvensional dan 3 dimensi.

(UnK)

Bagikan ke :