Jantung Sering Berdebar, Apakah Aritmia?

Tahukah Anda bahwa banyak orang yang tidak mengetahui gejala penyakit jantung salah satunya yang menyerang pada irama jantung?. Aritmia atau Gangguan Irama Jantung menjadi topik hangat perbincangan saat ini karena kasus kematian mendadak ternyata sebagian besar disebabkan oleh gangguan irama jantung. Gangguan ini sering kali tidak terdeteksi sebagai penyakit jantung.

dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP (K) FIHA adalah dokter spesialis penyakit jantung dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang ini menjelaskan mengenai Aritmia atau Gangguan Irama Jantung. Aritmia adalah gangguan detak atau irama jantung. Gejalanya dapat dirasakan ketika jantung berdetak lebih cepat dari normal (takikardia) atau ketika jantung berdetak lebih lambat dari normal (bradikardia).

Jantung yang berdenyut lebih lambat tentu akan mengganggu peredaran darah ke otak sehingga penderitanya sewaktu-waktu dapat pingsan tiba-tiba. Sebaliknya, jika jantung berdenyut terlalu cepat dalam jangka waktu yang lama, maka dapat menimbulkan gejala berdebar, sesak nafas maupun nyeri dada yang pada jangka panjang akan mengakibatkan gagal jantung kongestif menetap yang tentunya akan sangat merugikan kesehatan pasien. Gagal jantung kongestif adalah kondisi di mana jantung tidak memompa darah yang cukup ke organ tubuh dan jaringan lain.

Aritmia disebabkan oleh gangguan impuls jantung maupun gangguan penghantaran listrik jantung. Hal ini dapat terjadi bila sel saraf khusus yang ada pada jantung yang bertugas menghasilkan dan menghantarkan listrik tersebut tidak bekerja dengan baik. Aritmia ini juga dapat terjadi bila bagian lain dari jantung menghasilkan sinyal listrik yang abnormal.

“Aritmia terkadang tidak disadari oleh pasien, walaupun beberapa  alat portabel saat ini sudah dapat mendeteksi adanya aritmia, tetapi untuk mengetahui berat ringannya aritmia harus dilakukan pemeriksaan yang rutin seperti EKG(Elektrokardiografi) maupun yang khusus seperti uji treadmill atau USG jantung,” terang Dokter Agung. Alat lainnya yang dapat mendeteksi gangguan irama adalah alat Holter Monitoring yang dapat merekam irama jantung selama 24-36 jam.

Ia mengatakan bahwa Aritmia dapat dipicu oleh stress, kelelahan, maupun gangguan  jantung lain seperti serangan jantung maupun kelainan katup jantung. “Beberapa jenis aritmia dapat menimbulkan kematian mendadak dan sering kali dicurigai sebagai serangan jantung maupun stroke namun sebaliknya jenis aritmia lainnya tidak menunjukkan gejala dan tidak menyebabkan kematian,”ujarnya.

Beberapa aritmia tanpa gejala dapat menyebabkan masalah yang berat di kemudian hari seperti gagal jantung, kematian jantung mendadak, pingsan, maupun rasa lemah berlebihan atau dada berdebar kencang. Seperti misalnya Artimia Supra ventricular takikardi yang dapat menimbulkan kelemahan dan rasa mau pingsan ataupun Fibrillasi Atrial yang akan meningkatkan risiko penggumpalan darah dalam jantung dan meningkatkan risiko emboli dan stroke sebesar 500%, gagal jantung dan kematian tiba-tiba.

Untuk mengetahui apakah kita mengalami gangguan irama pada jantung, dr. Agung Fabian menyarankan untuk melakukan cek rutin kesehatan jantung. “Cek kesehatan jantung dapat dilakukan setahun sekali untuk usia dibawah 35 tahun dan untuk usia diatas 35 tahun sebaiknya cek lab kolesterol per 6 bulan dan cek jantung, EKG dll setiap tahun. Untuk usia diatas 50 tahun cek ke dokter jantung setiap 6 bulan sekali bila tidak ada keluhan, namun kalau sudah ada keluhan cek kesehatan jantung 1 bulan sekali.  Cek kesehatan jantung dapat dilakukan di Rumah Sakit Awal Bros yang saat ini memiliki pusat layanan jantung (heart and vascular center),” imbuhnya.

(UnK)

Bagikan ke :