Batu saluran kemih (BSK) atau batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih, mudah dipicu dari beragam faktor kebiasaan sehari-hari. Kurang minum air putih, kuat merokok, bahkan jarang olahraga, termasuk sebagai pemicunya.

Dokter Spesialis Urologi Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Mohammad Fariz, SpU mengatakan batu saluran kemih ini adalah penyakit terbanyak di bidang urologi. Dengan risiko seseorang mengalami batu saluran kemih sepanjang hidupnya adalah sekitar 5-10%. Penyakit ini terjadi lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita dengan perbandingan 3:1.

Awal mulanya, batu terbentuk di ginjal yang biasa disebut batu ginjal. Dalam kondisi berbeda, batu bisa turun ke saluran ureter hingga saluran kemih. Saluran ureter ini adalah saluran yang menghubungkan saluran ginjal dengan saluran kencing. “Akan parah jika batu berada di uretra (saluran kemih akhir) pasien. Akibatnya akan sulit sekali buang air kecil,” kata dokter spesialis urologi tersebut.

Keluhan utama adalah sakit pinggang, makannya jangan anggap remeh hal ini. Kebanyakan individu tidak ada yang menyadari, saat batu saluran kemih terbentuk di dalam ginjal, keluhan sakit pinggang yang diabaikan adalah satu gejala yang mesti diwaspadai. “Pasien akan merasakan sakit, saat batunya sudah berada disaluran uretra tersebut. Proses turunnya batu ini akan bisa mengakibatkan sakit pinggang hingga kencing berdarah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kalau sudah medical check up, pasiennya baru sadar batu terbentuk di ginjal. Mengenai pencegahan, dari sisi makanan sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, kecuali asam urat tinggi. “Biasanya yang dikurangi adalah kacang-kacangan. Karena asam urat tinggi bisa menimbulkan batu ginjal,” ujar dokter Fariz.

Lebih lanjut, dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, pencegahan bisa dilakukan dengan minum air minimal 1,5 liter tiap harinya dan perbanyak gerak atau berolahraga. “Kalau pekerjaan banyak duduk di depan computer dan kurang minum jelas ini membentuk batu ginjal tersebut,” ungkapnya.

Begitu juga dengan mengkonsumsi jeruk nipis atau lemon untuk pencegahannya. “Biasanya dengan membuat infused water,” sebutnya. Penanganan batu ginjal dan abut kemih, sambung dokter Fariz, disesuaikan dengan ukuran batu dan letaknya. Saluran ureter manusia berdiameter maksimal 6-7 milimeter. Jadi, jika ukurannya lebih kecil bisa dibantu dengan konsumsi obat-obatan seperti antinyeri, antiradang dan obat golongan alphablocker agar mempermudah keluarnya batu.

Untuk batu dengan ukuran dua centimeter ke bawah, bisa dilakukan teknik Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) dengan menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh tanpa operasi. “Alat ini ada di Rumah Sakit Awal Bros Batam,” ucap dokter spesialis urologi tersebut

Prosesnya, pasien tinggal berbaring, ESWL ini sudah dilengkapi dengan X-Ray yang bisa memantau keberadaan batu, lalu dilanjutkan dengan targeting. “Rasanya seperti disentil, tidak dibius hanya pemberian obat antinyeri. Kurang lebih 45 menit sampai 1 jam, batu sudah pecah,” ungkap dokter berusia 36 tahun tersebut.

Setelah pecah, pasien bisa langsung pulang, namun tetap kontrol disertai obat untuk mengeluarkan pecahan batu lewat saluran kemih. Tentu saja harus tetap dibarengi dengan perbanyak minum dan banyak olahraga. “Rata-rata pasien sudah tidak merasakan batu tersebut keluar karena batu tersebar pecah menyerupai ukuran pasir,” jelas dokter Fariz. Kalau batu sudah berukuran di atas dua centimeter, bisa dilaksanakan Percutaneous Nephrolitotripsy (PCNL). PCNL ini salah satu prosedur untuk memindahkan batu dari ginjal dengan luka kecil hingga maksimum satu sentimeter melalui kulit. “Berbeda lagi kalau ukuran batu besar, terpaksa harus dilakukan operasi terbuka. Ini jika kasusnya batu berada di dalam ginjal,” tegasnya.

Berbeda jika batu berada di saluran ureter dengan ukuran dua sentimeter ke atas, bisa dilaksanakan Ureterorenoscopy (URS). Ureterorenoscopy menggunakan alat endoskopi semirigid atau fleksibel berukuran kurang dari 30 milimeter. “Yang dimasukkan melalui saluran kemih ke dalam saluran ginjal (ureter). Kemudian batu dipecahkan dengan gelombang udara,” pungkasnya.

Faktor Risiko Batu Saluran Kemih

  1. Riwayat keluarga dengan batu saluran kemih
  2. Penyakit asam urat
  3. Riwayat hipertensi
  4. Riwayat hiperpaaratiroid
  5. Kelainan anatomi saluran kemih
  6. Bekerja di tempat panas, banyak duduk
  7. Kurang minum

Gejala dan Tanda Batu Saluran Kemih

  1. Nyeri saat buang air kecil
  2. Sulit buang air kecil
  3. Buang air kecil berdarah
  4. Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan demam

Pencegahan Batu Saluran Kemih

  1. Minum yang cukup
  2. Pengaturan diet untuk pasien asam urat
  3. Meningkatkan konsumsi buah–buahan yang banyak mengandung sitrat (jeruk nipis atau lemon)

 

 

Diterbitkan oleh: BATAM POS | HEALTHY LIVING | HAL. 4 | 29 APRIL 2018

ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) merupakan prosedur tindakan untuk memecahkan batu di saluran kemih yang dilakukan dari luar tubuh. Jadi tanpa melukai tubuh dan tanpa memasukan alat apapun ke dalam tubuh. Dr. Muhammad Fitrah, Sp.U – Dokter Spesialis Urologi Rumah Sakit Awal Bros Bekasi menjelaskan mengenai tindakan ESWL. “Prosedurnya bisa dilakukan saat pasien sadar tanpa pembiusan hanya diberikan obat penghilang rasa sakit. Lalu, pasien dengan posisi tidur, alat ESWL itu ditempelkan ke badan pasien dan dengan gelombang kejut, batu akan dipecahkan sehingga pecahan-pecahan batu tadi yang ada didalam tubuh pasien, bisa dikeluarkan melalui kencing pasien,”ujar Dokter Fitrah.

“Kenapa kita sampai melakukan tindakan ESWL? Hal itu kita lakukan tindakan apabila pasien mengalami
batu saluran kemih. Batu itu bisa mulai dari ginjal, disaluran bagian bawah yang kita sebut ureter bahkan
sampai ke batu di kandung kemih atau biasa disebut batu bulih-bulih,” terang dokter Fitrah. Prosedur ini
bisa kita lakukan pada batu-batu yang ukurannya optimal untuk tindakan ESWL yaitu kurang dari 2 cm
atau 20 mm.

Tindakan ESWL ini dilakukan sekitar 1-1,5 jam tergantung dari besarnya batu itu sendiri dan posisi batu
itu sehingga kita bisa tahu bahwa dari alat ini ada batas maksimalnya. “Antara batu ginjal dengan batu
ureter memiliki perbedaan jumlah tembakannya. Jadi pasien tidak perlu takut karena tindakan ini tanpa
memasukkan alat apapun dan pasien dapat dengan santai dilakukan,”tandasnya.

Sebelum dilakukan tindakan ESWL ini kita melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
laboratorium untuk mengetahui fungsi darah dan fungsi faktor perdarahan serta faktor pembekuan
darah. Sebab hal itu penting pada saat ditembak nanti.

Selama prosedur tindakan ini pasien tidak usah berpuasa karena pada saat dilakukan tindakan ini tidak
perlu pembiusan, jadi hanya diberikan obat penghilang rasa sakit saja. Dan yang perlu diingat dan hati-
hati adalah pasien dengan gangguan pendarahan artinya apabila pasien itu mengkonsumsi obat-obat
pengencer darah dan pada ibu hamil maka prosedur tindakan ESWL ini tidak bisa dilakukan karena akan
berbahaya.