Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Tak terkecuali oleh penyandang diabetes (diabetisi). Bagi diabetisi, kegiatan berpuasa dalam jangka waktu yang cukup lama akan meningkatkan timbulnya risiko dehidrasi, hipoglikemia (gula darah sangat rendah) maupun hiperglikemia (gula darah sangat tinggi). Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan pemahaman dan pengamalan secara benar tentang perubahan perilaku pasien diabetes selama bulan suci Ramadhan sangat diperlukan. Perubahan kondisi gula darah dan dampak yang akan terjadi harus dapat dikuasi oleh diabetisi maupun keluarga. Pemahaman yang baik akan sangat membantu dalam penyusunan progam pengobatan diabetisi selama menjalankan ibadah puasa.

Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan keputusan pribadi namun disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Yang harus dipahami adalah, perawatan kesehatan diabetisi sangat bersifat individu. Perencanaan pengelolaan akan berbeda pada setiap individu, begitu pula pengelolaan pada saat berpuasa Ramadhan. American Diabetes Association merekomendasikan diabetisi tipe 2 untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sekurang-kurangnya satu atau dua bulan sebelum Ramadhan. Panduan tatalaksaan kelainan endokrin di daerah Asia Selatan juga merekomendasikan setidaknya perencanaan pengelolaan pada saat bulan Ramadhan dilakukan 3 bulan sebelumnya. Anda harus berdiskusi dengan dokter Anda, untuk menentukan apakah Anda tergolong kelompok yang memiliki risiko tinggi atau rendah pada saat berpuasa.

Yang harus dievaluasi sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan antara lain mengindentifikasi apakan si Diabetisi atau penyandang Diabetes termasuk pada kelompok risiko tinggi. Pada kelompok ini tidak disarankan untuk menjalani puasa Ramadhan dikarenakan komplikasi akut yang sering terjadi. Kelompok ini antara lain adalah penyandang diabetes dengan: riwayat hipoglikemia (gula darah sangat rendah) berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan, riwayat hipoglikemia berulang, hipoglikemia yang tidak disadari atau bergejala, kendali gula yang buruk (gula darah masih relative tinggi), Diabetes Melitus tipe 1, sedang sakit, riwayat koma hiperglikemia (kadar gula tinggi) dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan, menjalankan pekerjaan fisik yang berat, hamil atau cuci darah kronik. Penyandang diabetes dengan ciri–ciri tersebut disarankan untuk tidak menjalankan puasa, namun sekali lagi kembali pada keputusan individu. Maka dari itu sebaiknya diabetisi dengan kriteria tersebut benar – benar melakukan persiapan yang baik dan diskusi yang mendalam dengan dokter yang merawat sebelum memulai ibadah.

Komplikasi pada penyandang diabetes

Komplikasi akut yang sering terjadi pada penyandang diabetes antara lain adalah hipoglikemia, yaitu gula darah rendah, sampai dengan menyebabkan kehilangan kesadaran bahkan sampai dengan koma. Dilaporkan kejadian hipoglikemia di bulan Ramdhan meningkat sebanyak 4,7 kali lipat terutama pada pasien DM tipe 1. Dan berefek pada meningkatnya angka rawat dengan hipoglikemia. Komplikasi lain antara lain adalah hiperglikemia, yaitu peningkatan gula darah yang sering terjadi pada pasien dengan kendali gula yang buruk sebelum puasa dimulai. Kendali gula yang buruk tersebut dapat bertambah buruk dan dapat berakibat pada kondisi lanjut seperti Ketoasidosis Diabetikum yang merupakan salah satu kondisi yang mengancam nyawa. Hal lain yang dapat terjadi pada penyandang diabetes adalah dehidrasi dan meningkatnya kekentalan darah yang berakibat pada meningkatnya risiko stroke dan serangan jantung.

Apa gejala hipoglikemia yang harus diwaspadai oleh penderita, antara lain adalah adanya gejala lemas disertai berkeringat banyak, merasa gelisah, sakit kepala, bingung dan pusing, mudah mengantuk, mudah lapar, mudah marah dan detak jantung yang cepat. Apabila merasakan gejala seperti tersebut diatas, segeralah memeriksakan gula Anda. Apabila didapati gula darah < 70 mgdL, maka Anda disarankan harus segera berbuka puasa. Efek jangka panjang kondisi hipoglikemia dapat menyebabkan hilangnya kesadaran atau kejang yang memerlukan penanganan darurat. Maka dari itu harus dicegah terjadi kondisi yang lebih lanjut. Hal yang sama terhadap gejala hiperglikemia harus diwaspadai. Adanya gejala lemas memberat, mudah haus yang berlebihan, hilangnya konsentrasi, seringnya buang air kecil dan sakit kepala dapat merupakan gejala dari kondisi hiperglikemia, yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan koma.

Tips untuk penyandang diabetes

Dokter Irma Wahyuni, SpPD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, menyarankan untuk penyandang diabetes berkonsultasi dengan dokter mereka untuk mengatur pelaksanaan terapi diabetes selama berpuasa. Konsultasi tidak hanya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan saja, namun juga diskusi tentang perencanaan diet, serta aktivitas fisik selama berpuasa. Pengaturan dosis dan jadwal konsumsi obat-obatan juga harus dilakukan selama bulan puasa, perubahan dosis, cara pemberian dan apa yang harus dilakukan oleh penyandang saat menghadapi gula darah yang tinggi atau rendah harus masuk dalam topik diskusi Anda dengan dokter Anda. Pemeriksaan atau pemantauan kadar gula darah selama berpuasa sangat disarankan, bahkan lebih sering lebih baik.

Pola makan atau diet selama bulan Puasa adalah hal mutlak yang harus diperhatikan oleh penyandang. Munculnya berbagai macam kudapan yang jarang ditemui kadang mengganggu usaha penyandang diabetes untuk dapat menjaga stabilisasi kadar gula selama berpuasa. Maka dari itu edukasi dan pemahanan yang baik terhadap pengaturan pola makan harus di kuasai oleh penyandang dan juga keluarga. Mengetahui pilihan – pilihan makanan yang baik dan harus dihindari. Asupan cairan yang cukup (selama tidak ada pembatasan cairan karena penyakit tertentu), harus sangat diperhatikan. Diskusi tips dan trik konsumsi cairan untuk tetap menjaga status hidrasi selama bulan puasa sangat penting bagi penyandang diabetes. Dianjurkan untuk tetap melakukan aktivitas fisik selama bulan Ramadhan, tentunya olahraga ringan yang masih aman dilakukan. Sholat tarawih dapat dipertimbangakan sebagai salah satu bagian aktivitas fisik selama berpuasa.

Sebagai kesimpulan, puasa Ramadhan adalah ibadah yang membawa keberkahan bagi semua orang, baik secara spiritual dan jasmani. Namun perlu diperhatikan, pada penyandang diabetes, harus melakukan persiapan yang baik sebelum melakukan ibadah tersebut agar dapat mendapatkan manfaat ibadah secara maksimal. Marhaban Ya Ramadhan, dan selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi semua Diabetisi.

Untuk berkonsultasi mengenai masalah kesehatan dan mendapat informasi paket-paket Medical Check Up, Anda dapat menghubungi Customer Care RS Awal Bros Pekanbaru di +62 811-7510-599 atau 0761 47 333. Semoga bermanfaat.

Narasumber : dr. Irma Wahyuni, SpPD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru
Ilustrasi gambar oleh wei tang

Di dunia kesehatan, lupus adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini dianggap setara dengan kanker, karena mematikan. Penyanyi cantik Selena Gomez diketahui menderita penyakit lupus. Dia didiagnosa lupus nefritis sekitar tiga tahun lalu. Akibatnya, ia harus melakukan transplantasi ginjal. Ia diketahui juga mengalami arthritis atau peradangan sendi.

Lupus merupakan penyakit autoimun. Kondisi saat sistem imun atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing dengan sel jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat, seperti jantung, ginjal, paru–paru, kulit, serta otak.

“Lupus tidak menular tapi mengancam jiwa, bisa juga disebut silent killer,” kata Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Arif Koswandi, SpPD-KGEH. Spesialis penyakit dalam tersebut mengatakan, penyakit ini termasuk kategori penyakit langka, namun siapa saja bisa terkena. Kejadiannya 20 hingga 30 orang per 1.000 penduduk. Sebagian besar diderita oleh wanita, dengan perbandingan 9 wanita dengan 1 pria, sedangkan kelompok usia yang sering terkena adalah usia 15 hingga 45 tahun. “Penyebab pasti lupus belum diketahui. Diduga faktor genetik atau dicetuskan oleh infeksi, stress, pancaran sinar matahari, dan obat obatan,” kata dokter Arif spesialis penyakit dalam.

Salah satu jenis lupus yang paling sering terjadi adalah Lupus Eritematousus Seismetik (SLE) yang dikenal sebagai penyakit seribu wajah. Karena SLE memiliki tampilan penyakit beragam dan mirip dengan penyakit lain, seringkali menimbulkan kekeliruan dalam menganalisanya. SLE gejalanya mirip dengan penyakit lain sehingga sulit dideteksi. Tingkat keparahannya beragam mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Gejala SLE dapat timbul secara tiba–tiba atau berkembang perlahan. “Pasien SLE dapat mengalami gejala yang bertahan lama atau sakit sementara sebelum akhirnya kambuh lagi,” ujar dokter spesialis penyakit dalam tersebut.

Penderita lupus, kata dokter Arif, mempunyai gejala beragam. Biasanya penderita mengalami keluhan pada kulitnya sehingga berobat ke dokter spesialis kulit. Gejala lupus adalah kulit kemerahan di sekitar hidung dan pipi bercak–bercak merah di bagian wajah atau lengan. “Selain pada kulit, penderita juga merasakan lelah, demam berkepanjangan, rambut rontok, persendian bengkak, dan sariawan, terangnya.

Karena itu, dokter Arif menyarankan agar waspada terhadap kemungkinan lupus. Program SALURI (Periksa Lupus Sendiri) dapat dilakukan di Puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan lain untuk mengenali gejala-gejala tersebut. “Jika mengalami empat gejala dari seluruh gejala yang disebutkan, dianjurkan untuk segera konsultasi dengan dokter di Puskesmas atau Rumah Sakit. Agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,” ucap dokter Arif.

Hingga saat ini penderita lupus belum dapat disembuhkan total. Pengobatan ditujukan untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi gejala, mencegah kerusakan organ dan memperpanjang harapan hidup. “Pengobatan lupus meliputi obat–obatan dan non-obat yakni memperhatikan diet, makanan sehat, hindari stress fisik maupun psikis, serta olahraga dalam kondisi tidak terpapar sinar matahari. Dukungan dari teman dan keluarga berperan penting dan membantu penderita menghadapi penyakitnya.” Dokter spesialis penyakit dalam tersebut menambahkan.

 

Waspada Gejala Lupus

Jika empat dari gejala ini dialami, maka kunjungilah dokter Anda untuk diperiksa dan ditangani dengan segera.

  1. Sensitif terhadap sinar matahari. Terjadi perubahan warna kulit, timbul kemerahan atau ruam (rash) bila terkena matahari. Di kedua pipi dan hidung seperti gambar kupu–kupu (butterfly rash) dan di kulit lengan.
  2. Sariawan tak kunjung sembuh dan tidak biasa tempatnya. Terutama di atap rongga mulut dan tenggorokan.
  3. Nyeri dan bengkak di persendian. Terutama di lengan tungkai. Serta menyerang lebih dari dua sendi (artristis).
  4. Nyeri dada. Terutama saat berbaring dan menarik napas panjang karena peradangan di paru–paru dan jantung.
  5. Kejang atau kelainan saraf.
  6. Kelainan saat pemeriksaan di laboratorium, kurang darah (anemia), jumlah sel darah putih rendah, jumlah sel pembekuan darah (trombosit) rendah.
  7. Kelainan hasil pemeriksaan ginjal. Ada kelainan pemeriksaan di urine protein.

Untuk berkonsultasi mengenai masalah kesehatan dan mendapat informasi paket-paket Medical Check Up, Anda dapat menghubungi Customer Care RS Awal Bros Batam di +62 813 6431 7777 atau 0778-431777 ext 1991/1992. Semoga bermanfaat.

 

 

Diterbitkan oleh Koran Sindo, Health, Rabu 16 Mei 2018, Hal. 16